Tuesday, 10 March 2015

Kasih dan Karunia


Kasih dan karunia
Dari Bunda Maria
Yang tak henti
Bunda curahkan
Kepada kami

Kasih Bunda yang suci
S’lalu dihati kami
Terpujilah Engkau
Diantara wanita

Doakanlah kami s’lalu
Ya Santa Bunda Allah
Agar kami dapat menikmati

Limpahan rahmat surgawi

Mengasih Maria

Mengasih Maria kerinduanku
Berhamba padanya
Janjian teguh
Ku mau menambah
kemuliaanmu
Kini dan selalu niatku teguh

Maria pemurah
Dan ratu besar
Terima kiranya citaku benar
Engkaulah bundaku
Aku anakmu
Yang suka di pandang
Harta milikmu

Mengingat selalu kebajikanmu
Menirunya juga niat hatiku
Tak kita bercerai di medan perang

Sehingga bersama kita ‘kan menang

Betapa Indahnya

Saat jiwa dahaga dan lapar
Engkau puaskan kami
Dengan santapan rohani
Tubuh dan darah nan suci

Saat jiwa mongering dan hampa
Engkau segarkan kami
Dengan santapan surgawi
Tubuh dan darah nan suci

Betapa Indahnya
Perjamuan Kudus
Betapa indahnya
Saat kami menyambut-Mu
Betapa indahnya kehadiran-Mu
Yang bertahta kuatkan Iman kami

Ave Maria (Pance)

Engkau yang dipilih
Allah Bapa di Surga
Untuk menghadirkan
Putera-Nya yang kudus
Engkaulah Bunda Kristus
Bunda Sang Penebus
S’gala dosa manusia

Bunda Maria
P’rawan yang tiada bernoda
Hatimu bersinar putih
Tiada bercela
Engkau bunda Al-masih
Yang diangkat ke Surga
Penuh kemuliaan

Ave Maria… Ave Maria…
Terpujilah Bunda…
Terpuji nama-Mu
S’panjang s’gala masa
Ave Maria… Ave Maria…
Syukur kepadanya
Tuhan yang pengasih
S’lama-lamanya.

Sunday, 8 March 2015

PLEASE HEAR WHAT I AM NOT SAYING

Jangan terkecoh olehku, jangan tertipu oleh topengku, karena Aku memang bertopeng. Ribuan topeng ku pakai : aku takut membukanya, tapi… tak satu topengpun sungguh aku. Aku pandai berpura-pura, aku lihai sekali, tapi janganlah terkecoh oleh karenanya, demi Allah jangan tertipu. Aku memberi kesan aku mantap, segalanya OK, seakan-akan tak ada masalah, di dalam maupun di luar aku. Aku memberi kesan bahwa aku yakin dan kuat… Tapi janganlah percaya aku, JANGAN…!!!

Penampilanku mungkin terlihat tenang. Tapi itu hanya topengku, topeng itu menyembunyikan segalanya. Dibalik topeng tersembunyi “aku” yang sebenarnya. Aku yang kacau, takut dan sepi.
Namun semua itu kusembunyikan, tak seorangpun boleh tahu. Aku panik akan kelihatan telanjang dan lemah, Aku panik karena tidak memiliki apa-apa lagi. Karena itu kupakai topeng untuk menutupi diri, agar terlindung dari tatapan mata yang menembus. Namun justru tatapan macam itu adalah penebusanku. Satu-satunya penebusanku… Yaitu jika pandangan itu disertai PENERIMAAN dan CINTA. Itu satu-saunya yang dapat meyakinkan aku, bahwa aku BERHARGA. Tapi itu tidak kukatakan kepadamu, aku tak berani, aku takut. Aku takut kalau-kalau tatapan matamu TIDAK DISERTAI CINTA dan PENERIMAAN. Padahal hanya pengertian saja yang dapat membebaskan aku.

Aku takut kau akan memandang rendah padaku, akan mentertawakan aku, ketawamu akan menungguku. Dalam lubuk hati kurasa diri sampah, hina, aku jelek, aku takut kau tahu ini akan menolak aku. Karena itu aku main sandiwara, aku berpura-pura, tapi dalam hatiku, aku bagai anak kecil yang gemetar. Hidupku bagai benteng dan pawai topeng. Aku ngobrol denganmu, basa-basi saja, tapi jeritan hatiku tidak ku ungkapkan. Maka bila aku bicara dengan-Mu, jangan tertipu oleh kata-kataku.

Sobat dengarkan baik-baik, Coba dengarkan APA YANG TIDAK KUKATAKAN, apa yang ingin kukatakan, apa yang perlu kukatakan, tapi tak berani kukatakan. Aku benci main sembunyi itu, sungguh aku benci. Aku benci omonganku yang dangkal, sandiwaraku, aku sungguh RINDU MENJADI DIRI YANG ASLI, tapi aku butuh bantuanmu. Tolong pegang tanganku, bahkan jika aku melawan…

Hanya engkau yang dapat menghidupkan aku. Tiap kali kau baik dan lembut terhadapku, Tiap kali Kau coba memahami aku karena cinta, hatiku seperti mendapat sayap. Sayap yang mungil, sayap yang lemah, namun sungguh sayap. Dengan kepekaan dan simpatimu dan kekuatan hatimu yang mau mengerti, aku berani memulai hidup. Kau dapat menghembuskan nafas kehidupan kedalam diriku, tahukan kau itu? Tahukan engkau betapa pentignya engkau bagiku, tahukan engkau bahwa engkau dapat menjadi pencipta AKU SEJATI, jika engkau mau?!!!

Hanya engkau yang dapat merobohkan dinding tebalku, dimana aku gemetar ketakutan. Hanya engkau dapat melepaskan topengku, hanya engkau dapat membebaskan aku dari dunia kegelapan dan kepanikanku, dari kebimbanganku, dan penjaraku yang sepi.

Maka jangan melewati aku, janganlah menyingkirkan aku. Itu pasti tidak mudah bagimu. Karena… semakin engkau mendekati aku, semakin aku melawan, membela diri. Kata orang cinta itu lebih kuat dari tembok, yang terkuat, disitulah terletak satu-satunya pengharapanku.

Coba bongkarlah tembok itu dengan tangan tegas, tangan tegas yang lemah-lembut, karena seorang anak amat peka, dan aku adalah seorang anak.

Siapakah aku ini? Aku adalah SETIAP PRIA, SETIAP WANITA, SETIAP ANAK,… SETIAP MANUSIA

Saturday, 28 February 2015

Pertumbuhan

Selesai latihan Lektor aku bergabung dengan tim Lektor misdinar, ternyata kami selesai bersamaan. Sejenak kami ambil waktu untuk sharing sambil melihat tukang - tukang pasang tenda. Lewat beberapa menit Romo kami datang dari misa lingkungan, bergabung dengan kami sambil mengamati tukang-tukang tersebut. Tiba-tiba Romo berkata; "Ati-ati nek masang tenda, ojo sampé kena tandhuran, angél lek nandhur". Sambil bergurau suster kami berkata; "Iya, lho betapa berharganya sebuah pertumbuhan". Selama perjalanan pulang aku terus memikirkan kata-kata suster, aku sangat tertarik dengan kalimat "Betapa berharganya sebuah pertumbuhan". Kata-kata "PERTUMBUHAN" terus bergema di telingaku. Sebuah pertumbuhan tentu didukung oleh suatu hal. Kita dari bayi tumbuh menjadi besar karena di rawat oleh orang tua, di beri makan dan minum; dari ASI hingga nasi. Bertumbuh dalam hal pengetahuanpun karena kita di sekolahkan dan belajar. Seperti tanaman, yang perlu di pupuk, di siram, ditambah tanah atau mungkin bila perlu kita pangkas karena ranting yang tidak berkembang dan daun-daun yang menguning, demikian pula hendaknya kita bertumbuh dalam hal Iman akan Allah. Setiap hari memupuk kehidupan Rohani dengan membangun relasi dengan Tuhan. Jika tumbuhan memerlukan makanan untuk bertumbuh, maka dalam kehidupan Rohani kita memerlukan DOA dan Firman. Apabila tanaman membutuhkan air sebagai minumannya, maka kita membutuhkan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai minuman Rohani kita (berbagi kasih pada orang yang memerlukan), atau tindakan tindakan positif yang dapat membangun pertumbuhan Iman kita akan Allah. Teruslah bertumbuh dalam Iman aka Allah dengan membangun relasi bersama-Nya melalui DOA, Firman, berbagi kasih dan kebaikan bagi setiap orang yang membutuhkan ***** Deus Caritas Est *****

Saturday, 7 February 2015

Hidup penuh perjuangan

Sepanjang hari ini aku berpergian mengantar kakaku kemanapun ke beberapa tempat yang kami perlukan. Singkatnya aktifitas kami banyak di lapangan. Setelah semua urusan kami selesai, dalam perjalanan pulang kami melalui jalan yang padat merayap. Terkadang harus berjalan di antara Mobil yang sempit, terkadang pula berada di tepi jalan yang berbatuan, atau di tepian aspal yang bisa saja membuat kami terjatuh. Melihat caraku mengemudikan motor dan mencari jalan pintas, kakakku mengungkapkan "mbok ya jalan yang lurus-lurus aja, gak usah belok-belok" Suatu ungkapan yang terlontar dari mulutku; "hidup itu penuh perjuangan, Ci. Demikian juga saat ini kita berjuang menemukan jalan untuk kembali ke rumah." Aku mencoba merenungkan kata-kata "kembali ke rumah". Banyak sekali makna di balik kata ini, jika berhubungan dalam kehidupan rohani, "kembali ke Rumah" berarti kembali pada Kebenaran. Jika di ungkapkan dalam bahasa jawa "yo wis mestine mulih omah sa' wis-é lunga" (artinya: sudah semestinya kita pulang, setelah berpergian). Aku sangat tertarik memandang hal ini dari kehidupan rohani. Hidup yang kita jalani saat ini adalah sebuah perziarahan, sebuah perjalanan untuk kita "kembali ke Rumah/kembali pada Kebenaran." Kembali ke Rumah membutuhkan suatu perjuangan dalam kehidupan kita, terkadang kita menghadapi badai; melewati jalan yang berliku, dan berbatu; ada di tanah yang becek. Pada saat kita melewati semua itu Tuhan melihat apakah kita tetap setia atau tidak, sebab tidak selamanya untuk kembali ke Rumah kita menemukan jalan yang mulus, dan lurus yang membuat kita merasa nyaman. Tuhan tidak pernah menjanjikan perjalanan yang nyaman saat kita mengarungi sebuah kehidupan, akan tetapi Dia memberikan "Keselamatan" Akankah kita tetap setia saat berada dalam lintasan hidup yang membuat kita goyah? Akankah kita tetap berjuang melawan badai kehidupan dan berjalan bersama-Nya?